Senin, 23 Maret 2009

hidup adalah tantangan

Kawan, dunia ini terkadang tidak adil. Ketika lo sudah berjalan sesuai arah, pasti ada aja halangan. Entah ringan atau berat. Mulai dari soal pacar selingkuh, nggak punya uang, kuliah lum selesai, cari pekerjaan dan banyak lagi. Jangan pernah takut menghadapi tantangan hidup ini guys. Jauhkan pikiran lo dari rasa takut, karena hal tersebut berakibat terhadap putusnya proses berpikir dan bertindak. Pada saat lo mendapat tantangan besar dan menuntut lo untuk bertindak, maka dengan bermodal keyakinan dalam diri lo, lawan dan hadapilah tantangan tersebut dengan penuh keberanian.

Kegembiraan dan kemenangan hanya bagi mereka yang memiliki keberanian dan keyakinan kuat. Jika pertama kali berproses lo sudah menyerah terhadap tantangan, menjadi sangat mungkin sekali terjadi “patahnya semangat” yang seharusnya menjadi sayap untuk membawa lo terbang dan terus berjuang melawan perasaan takut dan lain sebagainya. Maka dengan demikian, tumbuhlah sejuta kekuatan dan keberanian untuk terbuka dan mau melihat apa yang ada dihadapan lo bukan melarikan diri darinya.

Menjadi sangat penting diingat, didalam keyakinan tidak ada ketakutan dan keyakinan yang sempurna akan meleyapkan semua ketakutan. Jadilah pemberani dan terimalah segala tantangan demi hidup yang lebih hebat dan penuh dengan perjuangan.

Referensi : Buku berpikir positif “kumpulan kata-kata motivasi hebat plus tafsirannya” - Khalifi Elyas Bahar.

Rabu, 11 Februari 2009

Kewirausahaan

Ada beberapa hal yang bisa saya tangkap jari paparan pada kuliah perana di Graha Saba Pramana UGM oleh Ciputra “Sang Kapitalis”.

Saya tidak tahu soal wirausaha tapi begitu dengar paparan pak Ciputra jadi mengerti (sedikit). Tapi ada tanda tanya besar dalam benak saya. Dunia pendidikan (baca UGM) dimasuki seorang kapitalis, Akankah UGM akan jadi kampus kapitalis (atau malah sudah?)? Benarkah mahasiswa hendak dicipta jadi seorang kapitalis? Itu kesan pertama saya, selanjutnya akan berkata lain. Sependek pemahaman saya begitu.

Menurutnya (Ciputra) bahwa Indonesia selama dijajah dan semasa orde baru semangat kewirausahaan telah terbunuh dengan sempurna. Terbukti oleh adanya budaya pengemis yang dilakukan pemerintahan Indonesia yang selalu mencari pinjaman sana sini, padahal negeri ini kaya. Banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tak sanggup mencipta lapangan kerja untuk dirinya lebih-lebih untuk pihak lain merupakan bukti kemubaziran lulusan pendidikan yang tidak “siap”. Perguruan selevel UGM pun belum begitu banyak bisa menyiapkan lulusannya untuk itu. Pemikiran yang ditawarkan Ciputra untuk segera diadopsi oleh UGM adalah membekali “semangat kewirausahaan”. Bahkan menurutnya kewirausahaan sebaiknya diberikan sejak sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Tidak perlu mengubah isi kurikulum, tapi cukup menambahkan muatan kewirausahaan disetiap jurusan. Tentu saja yang dimaksud diiringi dengan praktik tidak sekedar teori.

Ciputra dengan bangga telah memberikan contoh kampus Tarumanegara yang tadinya “payah” ia sulap menjadi kampus “megah” dengan kemandirian dan berlandaskan kewirausahaan. Oke-lah…

Masih menurut Ciputra bahwa dengan jiwa wirausaha maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang maju, bisa mengelola kekayaannya tanpa perlu ada ketergantungan dengan pihak lain, tidak lagi menjadi negara pengemis. Hal ini bisa saja ditanamkan sejak dini lewat bangku sekolah, yang keberadaanya telah menyebar di seluruh pelosok negeri sebagai lahan persemaian manusia “berpendidikan”.

Denga penuh semangat Ciputra memaparkan kewirausahaan di depan 2000 lebih calon mahasiswa pascasaraja UGM 2007. Inti yang saya bisa serap adalah bahwa kewirausahaan memang perlu untuk diterapkan dalam tiap individu meskipun porsi dan aplikasinya harus proporsional sehingga tidak ada pihak dirugikan.